Minggu, Juni 04, 2017

Sejarah Ki Hajar Dewantara

author photo
MereNyaho.Com ~ Hallo Pembaca Blog MereNyaho, pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan tentang Sejarah Ki Hajar Dewantara, Masa Muda Dan Awal Karir Ki Hajar Dewantara, Asal Mula Gelar Bapak Pendidikan Bagi Ki Hajar Dewantara, untuk lebih jelasnya silahkan simak tulisan dibawah ini.

Tentunya kalian sudah tahu di negara kita ini tentu banyak pahlawan yang telah berjuang dan mempertahankan kemerdekaan bangsa indonesia baik para pahlawan revolusi, pahlawan nasional, ataupun rakyat indonesia yang ikut berjuang dan mempertahankan kemerdekaan bangsa indonesia, yang bisa kita sebut sebagai pahlawan. Indonesia karya jasanya yang telah mempertaruhkan harta dan nyawanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa indonesia.

Sejarah Singkat Ki Hajar Dewantara


Pastinya kalian sudah tidak asing lagi dengan nama KI HAJAR DEWANTARA bukan? Ya, karena selain sebagai pahlawan nasional indonesia KI HAJAR DEWANTARA juga merupakn mentri pegajaran indonesia ke-satu atau bapak pendidikan indonesia yang pertama. Dengan masa jabatan daei 2 September 1945 – 14 November 1945 yang kemudian diganti oleh TODUNG SUTAN GUNUNG MULIA.

KI HAJAR DEWANTARA lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman. Tanggal kelahiran KI HAJAR DEWANTARA sekarang diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional di indonesia. Serta semboyan yang dibuat KI HAJAR DEWANTARA yaitu Tut wuri Handayani menjadi selogan kementrian pendidikan Nasional indonesia. Tidak hanya itu namanya juga di abadaikan sebagai sebuah nama kapal perang indonesia (KI HAJAR DEWANTARA) dan potret dirinya di abadikan pada uang kertas 20.000 Rupiah tahun 1998.

KI HAJAR DEWANTARA juga dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden Republik indonesia yaitu Soekarno hatta pada tanggal 28 November 1959 melalui surat keputusan Presiden indonesia NO.305 tahun 1959 tanggal 28 November 1959.

Sekarang kita sebagai pemuda pemudi indonesia harus mempunyai semangat yang tinggi seperti para pahlawan kita yang sudah memerjuangkan bangsa indonesia, dan tugas kita sebagai pemuda indonesia harus cinta indonesia, harus cinta tanah air kita.

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat EYD = Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD = Ki Hajar Dewantara, beberapa bahasa Jawa untuk menulis suara Ki Hajar Dewantoro, dilahirkan di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – wafat di Yogyakarta, 26 April 1959 di usia 69, selanjutnya disebut sebagai “Soewardi” atau “KHD” adalah aktivis gerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Sejarah Ki Hajar Dewantara


Sejarah Ki Hajar Dewantara, Sejarah Singkat Ki Hajar Dewantara, Asal Mula Gelar Pendidikan Bagi Ki Hajar Dewantara, Pendiri TamanSiswa, Ki Hajar Dewantara Lahir Dimana ?

Beliau adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi rakyat jelata adat untuk dapat memperoleh hak atas pendidikan serta aristokrasi dan Belanda.

Tanggal lahir sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari penciptaan slogan, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama dari kapal perang Indonesia KRI Ki Hajar Dewantara. Gambar dirinya diabadikan pada tagihan 20.000 dolar tahun 1998 emisi.

Beliau dikukuhkan sebagai pahlawan nasional untuk-2 oleh Presiden, Soekarno, pada 28 November 1959 (Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Masa Muda Dan Awal Karir Ki Hajar Dewantara


Soewardi berasal dari lingkungan Kadipaten Pakualaman keluarga, anak GPH Soerjaningrat, dan cucu dari Pakualam III. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di ELS “Sekolah Dasar Eropa / Belanda”. Kemudian telah terus STOVIA Sekolah Kedokteran Bumiputera, tapi tidak sampai akhir karena sakit.

Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada saat itu, ia diklasifikasikan sebagai penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam semangat anti-kolonial.

Kegiatan Gerakan Ki Hajar Dewantara


Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo BO pada tahun 1908, ia aktif di bagian propaganda untuk bersosialisasi dan membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia khususnya Jawa pada saat tentang pentingnya persatuan di negara ini. BO kongres pertama di Yogyakarta juga diselenggarakan oleh Beliau.

Muda Soewardi Insulinde juga anggota organisasi, organisasi multi-etnis yang didominasi Indo memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, pada pengaruh Ernest Douwes Dekker DD. Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diundang pula.

Als ik een Nederlander adalah


Ketika pemerintah Belanda bermaksud untuk mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, mengangkat reaksi kritis dari nasionalis, termasuk Soewardi. Beliau kemudian menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu, tetapi juga”.

Tapi kolom KHD yang paling terkenal adalah “Jika aku A Belanda” judul asli: “Als ik een Nederlander adalah”, yang diterbitkan dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini adalah pedas sekali di antara pejabat dari Hindia Belanda, kutipan artikel adalah sebagai berikut.

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini awalnya dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasa yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum. Bahkan jika benar ia menulis, mereka menganggap peran DD di menghasut Soewardi untuk menulis dengan gaya seperti itu.

Sebagai hasil dari tulisan ini ia ditangkap dengan persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka atas permintaan sendiri. Namun demikian kedua orang, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda 1913. Ketiga karakter yang dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Soewardi kala itu berusia 24 tahun.

Di Pengasingan


Dalam pengasingan di Belanda, aktif dalam organisasi mahasiswa Soewardi dari Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).

Di sinilah ia kemudian merintis cita-cita memajukan pribumi untuk belajar ilmu pendidikan untuk memperoleh Europeesche Sertifikat, sebuah ijazah pendidikan bergengsi yang kemudian menjadi dasar dalam membangun lembaga pendidikan yang didirikan. Dalam penelitian ini Soewardi tertarik dengan ide-ide dari sejumlah pendidikan Barat terkemuka, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, keluarga Tagore. Pengaruh yang mendasari ini dalam mengembangkan sistem pendidikan mereka sendiri.

Taman Siswa National University


Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera setelah itu beliau bergabung dengan saudaranya di sekolah binaan. Pengalaman mengajar kemudian digunakan untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada 3 Juli 1922: National Onderwijs Institut Tamansiswa atau Tamansiswa National University.

Saat Beliau mencapai usia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Dia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Ini berarti bahwa dia bisa bebas dekat dengan rakyat, baik fisik dan mental.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang menggunakan sekarang sangat terkenal di kalangan pendidikan di Indonesia. Secara keseluruhan, slogan membacanya dalam bahasa Jawa yang dinyanyikan Tulodo ngarso ing, ing Madyo Mangun Karso, tut wuri handayani. “Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, memberi dorongan balik”. Slogan ini masih digunakan dalam pendidikan masyarakat Indonesia, terutama di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Asal Mula Gelar Bapak Pendidikan


Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia pasca disebut sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang pertama. Pada tahun 1957 ia menerima gelar doktor kehormatan “honoris causa dokter, Dr hc” dari universitas tertua di Indonesia, Universitas Gadjah Mada.

Untuk jasanya di bidang pendidikan umum perintis, ia menyatakan Bapa Pendidikan Nasional Indonesia dan digunakan sebagai hari lahir Hari Pendidikan Nasional Keputusan Presiden no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Dia meninggal di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara

This post have 0 komentar


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post